Tampilkan postingan dengan label Trending Topik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trending Topik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2017

Rakyat Aceh Rela Mati Demi Agama Hadapi Ancaman Biksu Radikal Myanmar

Terkait ancaman dari tokoh Buddha radikal asal Myanmar Ashin Wirathu  terhadap Aceh akibat diterapkan hukuman cambuk yang diberlakukan terhadap penganut Buddha di Aceh. Sejumlah masyarakat siap menerima tantangan sang radikal tersebut.
Rakyat Aceh Rela Mati Demi Agama Hadapi Ancaman Biksu Radikal Myanmar
"Pas sekali ancaman itu, karena kami sudah lama menunggu perang dengan tokoh radikal yang membasmi muslim Rohingya itu, dan kami siap perang dengan mereka," tutur salah seorang di warkop Ulee Kareng Banda Aceh.

Bukan hanya dii sejumlah warung jadi perbincangan ancaman Tokoh Budha tersebut, bahkan di jejaring sosialpun menjadi heboh bahkan siap jihad para pemuda yang ada di Aceh untuk melawan

Menurut para sumber, Rakyat yang diindentik dengan karakter militer jangan sekali-kali memancing ancaman, karena tampa dijual rakyat Aceh siap untuk dibeli, dan Aceh dari dulu hobi dengan perang, apa lagi membela Islam, rakyat Aceh rela mati demi Agama.

Diberitakan sebelumnya, tokoh Buddha radikal asal Myanmar, Wirathu mengecam keras hukuman cambuk yang diberlakukan terhadap penganut Buddha di Aceh.

Biksu yang bertanggungjawab atas tewasnya ribuan muslim Rohingya ini mengancam akan menyerang Aceh dan nelayan Indonesia yang ketahuan berlayar di area mereka.

“Tidak ada satu pun umat Buddha yang dianiaya kecuali kami akan membalasnya, ” tuturnya. 
sumber: https://goo.gl/n2DL0G

Kenapa Justru Malaysia Yang Lebih Respect Atas Ancaman Biksu Bengis Ketimbang Jokowi dan Para Mentrinya?

Pasca tempo melakukan framing berita yang menyudutkan umat islam atas pelaksanaan hukuman cambuk warga aceh yang ketahuan melakukan judi, dimanya yang bersangkutan memang dikabarkan non-muslim. Ternyata tempo menggunakan framing berita ini mendongkrak reader  dengan melakukan framing, namun setelah mendapat kritik judul beritanya langsung diganti.
Kenapa Justru Malaysia Yang Lebih Respect Atas Ancaman Biksu Bengis Ketimbang Jokowi
Nampkanya apa yang dilakukan wiratu yang langsung bereaksi atas pelaksanaan hukuman tersebut disebut sebut pengaruh dari pemberitaan tempo, pasalnya hanya tempo yang memberitakan dengan bahasa yang profokasi.

Akan tetapi ancaman biksu buddha tersebut, ditanggapi serius oleh perdana mentri malaysia, yang langsung bereaksi balik atas upaya wiratu yang mengancam akan menyerbu umat islam aceh.

Wiratu memang terkenal bengisnya membantai umat islam rohingya dengan membabi buta, mengusir umat islam dari rumah mereka dan melakukan pembantaian atau genoside.

Hal yang amat disayangkan, kenapa justru malaysia yang cepat dan respect terhadap umat islam aceh, dimana para penguasa negri ini. Kenapa kehadirannya tidak dirasakan oleh umat islam dinegri ini, saat kondisinya diancam oleh sekelompok buddha.

Banyak netizen menyayangkan sikap pemerintah yang abai terhadap ancaman biksu buddha tersebut, setidaknya memberikan pernyataan balik kan bisa, tapi hal itu tidak dilakukan.

Netizen mengungkapkan kekecewaannya terhadap abainya pemerintah, nampaknya pemerintah sibuk bela kepentingan ahok dan aseng, serta sibuk berupaya menutupi boroknya sendiri yang kalo tidak ditutupi dengan rapat akan ketahuan. Mulai dari skandal ahok, korupsi besar-besaran papa minta KTP. Membela mati-matian mereka para pelaku korupsi agar tidak terbongkar, karna mereka punya jasa besar terhedap rezim penguasa sekarang.

Sebagai contoh novanto, ia yang harusnya dijebloskan kepenjara atas kasus papa minta saham, tapi dia siap pasang badan namanya hancur dalam skandal tersebut demi bela jokowi. Tentu hal ini merupakan jasa besar bagi jokowi untuk membalas jasanya.

Ironi penguasa negri ini, mereka tidak memiliki rasa cinta terhadap islam dan umatnya, mereka sibuk mengurusi kepentingan dan kroni-kroninya demi membela sang majikan tercinta, sementara urusan rakyat dan umatnya dia abaikan begitu saja seolah tak terjadi apa-apa.

Disinilah letak bobroknya penguasa negri ini, sistem yang bobrok sungguh sangat memberikan keuntungan untuk mereka mengumpulkan pundi-pundi pribadi dan menjadi jongos asing dan aseng, naudzubillah.

Saatnya umat islam bersatu dibawah bendera tauhid dan dibawah kepemimpinan islam dan sistem yang berasal dari alqur'an dan sunah dengan dipimpin oleh pemimpin yang amanah yang mencintai rakyat dan dicintai rakyat.
sumber: http://ift.tt/2nKSFoa

Menteri Malaysia: Budha Wirathu Nekat Ke Aceh, Rudal Kami Menyambut Duluan

Menteri Pertahanan Malaysia Hishamuddin Hussein, menanggapi seruan Wirathu yang mengancam akan menyerang Aceh, Rabu (15/3/2017).
Menteri Malaysia: Budha Wirathu Nekat Ke Aceh, Rudal Kami Menyambut Duluan
Berbicara kepada wartawan di lobi parlemen, Hishamuddin mengatakan bahwa Malaysia memiliki hubungan istimewa dengan Indonesia, khususnya Nangroe Aceh Darussalam.

Hishamuddin mengatakan, Malaysia akan dengan senang hati mengirimkan rudal-rudal mereka jika mendeteksi ada kapal atau pesawat Myanmar yang berisi biksu yang ingin menyerang Aceh.

”Hubungan Malaysia dan Indonesia seperti saudara kandung. Terlebih dengan Aceh. Kami tidak akan membiarkan seorang biksu pun yang dengan leluasa melewati laut Malaysia, tanpa berhadapan dengan rudal-rudal kami,” katanya.

Malaysia yakin Biksu Wirathu akan berpikir hingga sejuta kali jika ingin membuat rusuh di Aceh.

”Sangat tidak masuk akal jika Biksu Wirathu berani ke Aceh. Saya yakin ia akan membuat lubang kuburnya sendiri jika berani ke sana,” imbuh dia, seperti dikutip The Star.

Menhan Malaysia yang masih kerabat dekat Perdana Menteri Najib Razak ini menambahkan bahwa sejarah peperangan Aceh saat melawan Belanda adalah salah satu perang paling lama di dunia.

”Keberanian rakyat Aceh sudah tercatat dalam sejarah dunia. Perlawanan mereka melepaskan diri dari penjajahan Belanda adalah salah satu perang terlama di dunia,” lanjutnya.

Rabu, 15 Maret 2017

Rahasia Terungkap, Siapa Habib Rizieq Sebenarnya, Ternyata !

Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab adalah benar keturunan dari Rasulullah SAW,dan beliau pun pernah mengeluarkan pernyataan tentang silsilah dan keturunan rasulullah SAW, inilah perkataannya :
Rahasia Terungkap, Siapa Habib Rizieq Sebenarnya, Ternyata !
“garis keturunan bukan untuk tujuan pamer. Jika itu adalah tujuan, maka harus merupakan kesombongan, dan itu adalah dosa,”

Habib Husein Shihab (alm), ayah Habib Muhammad Rizieq Shihab.Habib Husein Shihab telah menghimpun para pemuda Arab untuk mengabdi pada bangsa melalui bidang kepanduan.pada tahun 1937 mendirikan PAI atau Pandu Arab Indonesia.

Sebuah perkumpulan kepanduan yang didirikan orang Indonesia berketurunan Arab yang berada di Jakarta, yang selanjutnya menjadi PII atau Pandu Islam Indonesia.

Di dalam diri Habib Rizieq Syihab mengalir darah Arab dan juga Betawi, status sosial beliau juga sebagai keturunan Habib dan mengaku sebagai keturunan ke-38 Nabi Muhammad SAW.

Sebutan lain dari Habib adalah Sayyid. Sayyid (jamak dari Sadah) adalah kata yang berasal dari bahasa arab, yang artinya tuan. Sharif (jamak dari Sharaf) yang artinya dihormati adalah sinonim dari Sayyid. Sayyid adalah gelar dan tertuju kepada seseorang atau kelompok.

Gelar ini identik untuk laki-laki, untuk perempuan adalah Sayyidah atau Syarifah. Sayyid tertuju kepada orang arab, khususnya yang mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad melalui cuu Beliau, Husein (anak dari Fatimah Az-Zahrah dan Ali bin Thalib).

Beliau menikah pada 11 September 1987 dengan Syarifah Fadhlun yang masih berasal dari keluarga dan kalangan Habib. Dari hasil pernikahannya, Beliau dikarunia lima orang anak : Rufaidah Shihab, Humairah Shihab, Zulfa Shihab, Najwa Shihab, dan Mumtaz Shihab. Kelima anaknya disekolahkan di Jami’at Khair, dan juga didatangkan guru privat (ilmu agama dan umum).

Selain berjualan minyak wangi dan perlengkapan shalat, Habib Rizieq juga berdakwah dan mengajar di Jami’at Khair. Di rumahnya setiap malam Jum’at diadakan pengajian yang dimulai dari pukul 17.30 sampai 20.30, wirid yang dilafadzkan adalah Wirid al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. Dua macam wirid ini populer di kalangan tarekat Haddadiyah , yang namanya diambil dari Sayyid atau Habib Abdullah al-Haddad, yang dinisbahkan kepada Imam Alawi bin Ubaidillah putra Imam Ahmad al-Muhajir yang dipandang sebagai founding father kaum Hadhrami, kelompok Sayyid yang berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan.
Tarekat yang dianut oleh para Habaib adalah tarekat Alawiyyin/Alawiyyah, yang berasal dari kata Ba Lawi yaitu suatu marga yang berasal Sayyid Muhammad bin Alawi. Tarekat ini berbeda dengan tarekat lain pada umumnya, perbedaan itu dapat dilihat dari praktiknya yang tidak menekankan segi riyadhah (olah rohani) dan kezuhudan melainkan lebih menekankan kepada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan.

Dari perspektif sejarah, kelompok Sayyid yang sekarang ada di Indonesia berasal dari Hadramaut. Hadramaut adalah salah satu provinsi di Yaman Selatan. Seperti juga Habib Muhammad Rizieq Shihab, ayahnya itu juga sangat cekatan dalam memimpin dan memberikan pengarahan kepada para pemuda yang tergabung dalam Pandu Arab Indonesia. Saya, yang juga menjadi anggota pandu ini lebih setengah abad lalu, membandingkan penampilan sang ayah dengan putranya yang kini memimpin ratusan ribu massa FPI — menurut Habib Muhammad Rizieq Shihab anggota FPI di Indinesia sekitar lima juta orang.

Sangat jauh berbeda dengan penampilan sang ayah yang sering memakai jas dan dasi, putranya ini selalu mengenakan jubah dan sorban. ”Ayah saya memang modern dan orangnya sangat berbaur,” kata Habib Muhammad Rizieq Shihab, kelahiran Agustus 1965. Wajah Rizieq hampir sama dengan wajah almarhum ayahnya.

Habib Rizieq mengaku ketika ayahnya meninggal dunia tahun 1966, dia baru berusia 11 bulan. ”Jadi saya mengenalnya hanya dari foto,” katanya.

Sang ayah yang lahir tahun 1920-an, sebelum meninggal di Polonia, Jatinegara, berkata kepada seorang anggota keluarganya, ”Tanyakan kepada putra saya ini, kalau sudah besar mau menjadi ulama atau jagoan. Kalau mau jadi ulama, didik agamanya dengan baik. Kalau mau jadi jagoan, berikan dia golok.”Sejak itu, Habib Muhammad Rizieq Shihab dipindahkan ke Jati petamburan dan terakhir lulus Riyadh University (kini King Saud University) Arab Saudi.

Menurut sejumlah teman almarhum Habib Husein Shihab yang kini rata-rata berusia diatas 80 tahun, pemimpin Pandu Arab ini pernah bekerja di Rode Kruis (kini Palang Merah Indonesia) pada masa kembalinya Belanda setelah proklamasi kemerdekaan.

Habib Husein, yang ketika itu masih berusia 20 tahunan, bekerja di bagian logistik. Di sini dia punya hubungan dengan para pejuang kemerdekaan. Dia banyak memberikan makanan dan pakaian untuk para pejuang yang ketika itu bergerilya di Jakarta dan sekitarnya.

Rupanya pihak NICA (tentara Belanda) mengendus tingkah lakunya itu, karena ada kawannya sendiri yang tega mengkhianatinya dan melaporkannya pada NICA. Tanpa ampun lagi, Husein Shihab pun ditangkap. Kedua tangannya diikat dan ia diseret dengan kendaraan jip.

Di penjara dia divonis hukuman mati oleh Belanda. Tapi, Habib Husein Shihab berhasil kabur dari penjara dan melompat ke Kali Malang. Dia selamat, meskipun bagian pantatnya tertembak. Dia sadar setelah sebelumnya mendapat pertolongan dari KH Nur Ali, pejuang Bekasi yang sangat ditakuti NICA.Suatu hari, Habib Muhammad Rizieq Shihab memperlihatkan foto ayahnya dengan istri Bung Karno, Fatmawati, dalam suatu upacara pada awal kemerdekaan. Dia menyatakan bangga, ayahnya punya semangat nasionalisme yang tinggi dan ikut membakar para pemuda Arab melawan Belanda melalui Pandu Arab Indonesia.


Ayah Habib Husein Shihab, Habib Muhammad Shihab, dahulu pernah memiliki ratusan delman dan memiliki istal kuda di depan RS Pelni. Delman yang bertrayek Tanah Abang ke Kebayoran Lama ini pernah diganggu oleh preman yang mengaku anak buah si Pitung, jagoan Betawi yang dibenci Belanda.

Seperti dituturkan Habib Muhammad Rizieq, kakeknya itu langsung menemui Pitung yang merasa tidak senang namanya dicatut. Rupanya pertemuan itu malah membuat dua tokoh Betawi tersebut menjadi akrab. Akhirnya, Habib Muhammad dikawinkan dengan ponakan Pitung dari Koebon Nanas, Kebayoran Lama. Dari perkawinan ini lahirlah Habib Husein Shihab, ayah dari Habib Muhammad Rizieq Shihab.Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab Lc,Ma

Lahir di Jakarta pada tanggal 24 Agustus 1965,ayah beliau Habib Husein bin muhammad Shihab dan ibu beliau Syarifah Sidah alatas,ayahnya meninggal semenjak beliau masih berumur 11 bulan,dan semenjak itulah Habib Muhammad Rizieq Shihab tidak dididik di pesantren. Namun sejak berusia empat tahun, Beliau sudah rajin mengaji di masjid-masjid. Ibunya yang sekaligus berperan sebagai bapak dan bekerja sebagai penjahit pakaian serta perias pengantin, sangat memperhatikan pendidikan Habib Muhammad Rizieq Shihab dan satu anaknya yang lain.

Habib Muhammad Rizieq Shihab mendeklarasikan berdirinya Front Pembela Islam (FPI) tanggal 17 Agustus 1998. FPI mulai dikenal sejak terjadi Peristiwa Ketapang, Jakarta, 22 November 1998, sekitar 200 anggota massa FPI bentrok dengan ratusan preman. Bentrokan bernuansa suku, agama, ras, antargolongan ini mengakibatkan beberapa rumah warga dan rumah ibadah terbakar serta menewaskan sejumlah orang.dan disini lah saya baru mengenal beliau.Nasabnya hingga ke Rasulullah S A W

Nasab Habib Muhammad Rizieq Syihab bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Husein bin Muhammad bin Syeikh bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Syihabuddin Al-Asghar bin Abdurrahman Al-Qadhi bin Ahmad Syihabuddin Al-Akbar bin Abdurrahman bin Syeikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Segaf …bin Muhammad Maulad Daawilah bin Ali bin Alwi Ibnul Faqih bin Muhammad Al-Faqihil Muqaddam bin Ali Walidil Faqih bin Muhammad Shahib Murbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhammad Djamaluddin bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra binta Rasulullah Muhammad SAW

Nasab Istrinya
Nasab Istri Habib Rizieq Syihab adalah Syarifah Fadhlun Yahya binti Faadhil bin Hasan bin Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Umar bin Aqil bin Syeikh bin Abdurrahman bin Aqil bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin Ali bin Alwi bin Muhammad Maulad Daawilah bin Ali bin Alwi Ibnul Faqih bin Muhammad Al-Faqihil Muqaddam bin Ali Walidil Faqih bin Muhammad Shahib Murbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhammad Djamaluddin bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra binta Rasulullah Muhammad SAW.

Biodata
Nama : Habib Muhammad Rizieq Syihab
Lahir : Jakarta, 24 Agustus 1965
Ayah : Habib Husein Syihab (almarhum)
Ibu : Syarifah Sidah Alatas
Istri : Fadlun Yahya

Anak :
Rufaidah Syihab
Humaira Syihab
Zulfa Syihab
Najwa Syihab
Muntaz Syihab
Fairuz Syihab
Zahra Syihab

Pendidikan :
SDN 1 Petamburan, Jakarta (1975)
SMP 40 Pejompongan, Jakarta
SMP Kristen Bethel Petamburan, Jakarta (1979)
SMAN 4, Gambir, Jakarta
SMA Islamic Village, Tangerang (1982)
Jurusan Studi Agama Islam (Fikih dan Ushul) King Saud University (S1), Riyadh, Arab Saudi (1990)
Studi Islam, Universitas Antar-Bangsa (S2), Malaysia.(sumber: okezone)

Jejak Turki di Aceh Yang tidak Banyak Diketahui Orang

TURKI tidaklah asing di telinga masyarakat Indonesia, khususnya Aceh pada saat ini. Bukan hanya karena hubungan antara Indonesia dan Turki sekarang yang semakin dipererat dengan kunjungan Presiden SBY ke Turki pada akhir Juni lalu, tapi juga karena ikatan sejarah masa lalu yang telah mendarah daging khususnya bagi masyarakat Aceh. Gerakan-gerakan pemuda Turki masa lalu juga telah menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. 
Jejak Turki di Aceh Yang tidak Banyak Diketahui Orang
Hubungan Aceh dan Turki Usmani pada masa lalu sangatlah erat, hingga bisa dikatakan seperti hubungan adik dan kakak. Beberapa sumber baik yang berasal dari hikayat-hikayat Aceh seperti Hikayat Aceh, Hikajat Soeltan Atjeh Marhoem dan juga tulisan Nuruddin Ar-Raniry yakni Bustanu’s-salatin menunjukkan bahwa Kerajaan Turki Usmani dahulu telah membantu Kerajaan Aceh dalam memerangi bangsa Portugis.

Dalam Hikajat Soeltan Atjeh Marhoem dikisahkan tentang kemurahan hati Sultan Kerajaan Turki Usmani yang mengirimkan ahli-ahlinya untuk mengajarkan seni berperang, membangun Kerajaan Aceh, juga menghadiahkan beberapa meriam sebagai alat bantu perang yang terkenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Dinamakan Meriam Lada Sicupak karena jauh dan rumitnya perjalanan dari daratan Aceh ke Kerajaan Turki, yang mengakibatkan utusan Kerajaan Aceh tersesat sampai memakan waktu tiga tahun untuk sampai di daratan Turki. 

Mereka terpaksa menjual padi, beras, dan lada-hadiah untuk Raja Turki yang masing-masing barang tersebut dimuat dalam tiga kapal layar-demi bertahan hidup. Hanya tinggal Lada sebanyak setengah bambu (Lada Sicupak) yang bisa dipersembahkan kepada Raja Turki Usmani. Selain itu, pada De Hikajat Atjeh dikisahkan juga tentang kunjungan utusan Kerajaan Turki ke Aceh untuk mencari obat bagi Raja Turki yang sedang mengidap suatu penyakit. Setelah mendapatkan obat yang dicari, maka pulanglah utusan tersebut dari Aceh dan dilaporkanlah kepada Sultan Turki Usmani tentang kemegahan Kerajaan Aceh. 

Sultan pun mengatakan pada wazirnya, “Pada masa lampau di Bumi atas kehendak Allah terdapat dua Raja besar yaitu Nabi Sulaiman dan Raja Iskandar Zulkarnain, maka pada zaman sekarang atas kehendak Allah terdapat dua raja yang amat besar, kita di Barat dan Sri Sultan Perkasa `Alam Raja di Timur.”

Sayangnya, di dalam hikayat-hikayat tersebut tidak didapatkan informasi secara jelas tentang raja yang berkuasa di Turki dan di Aceh saat itu. Namun, berdasarkan sumber yang lebih terpercaya sebagaimana ditulis oleh Muhammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad, pengiriman bantuan dari Turki ke Aceh terjadi ketika Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Al-Kahhar berkuasa di Aceh. Apabila kita membaca sumber yang ditulis sejarawan asing, baik dari Turki ataupun negara lain, disebutkan bahwa hubungan Kerajaan Aceh dan Turki telah terjalin sepanjang abad ke-16 sampai awal abad ke-17. 

Diperkirakan, Kerajaan Aceh telah menjalin hubungan dengan Turki semenjak Turki Usmani berada di bawah kekuasaan Sultan Selim I, kemudian berganti Sultan Sulaiman I, sampai masa Sultan Selim II, bahkan berlanjut lagi pada abad ke-19 ketika kekuasaan di tangan Sultan Abdulmejid II. Sumber Turki, Ismail Hakki Goksoy, menyebutkan, Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Al-Kahhar mengirim surat kepada Sultan Sulaiman melalui duta besar Hussein bertanggal 7 Januari 1566 dengan tujuan meminta bantuan militer untuk memerangi pasukan Portugis. 

Namun, bantuan berupa ahli perang, kapal, meriam, tentara bersenjata lengkap tidak dapat segera dikirimkan dikarenakan beberapa peristiwa yang terjadi di Istanbul pada saat itu, termasuk juga peristiwa pengangkatan Sultan Selim II menggantikan Sultan Sulaiman yang mangkat.

Selama keberadaannya di Aceh, utusan yang dikirim dari Kerajaan Turki telah banyak memberikan kontribusi dan pengaruh besar terhadap Kerajaan Aceh. Di samping hubungan dagang antara dua kerajaan tersebut, Turki Usmani juga mendirikan akademi militer di Kerajaan Aceh yang telah mencetak pemimpin perang tangguh. Salah satunya Laksamana Keumalahayati. Keumalahayati adalah seorang perempuan Aceh yang pernah memimpin berpuluh kapal perang, yang di setiap kapal tersebut terdapat ratusan tentara. 

Di samping itu, Goksoy juga menyebutkan dalam tulisannya tentang bendera Kerajaan Aceh yang berlatar merah bersimbolkan bulan sabit dan bintang putih dengan pedang di bawahnya. Ini semua pengaruh dari Kerajaan Turki Usmani. Hubungan antara dua kerajaan berlanjut lagi pada pertengahan abad ke-19 ketika Belanda menjajah Aceh. Sultan Aceh meminta bantuan kembali kepada Turki Usmani agar mengirimkan pasukan dan juga meminta kerajaan Aceh agar ditegaskan sebagai bagian dari Turki Usmani. 

Tujuannya agar Belanda tidak dapat menguasai tanah Aceh. Namun, pada abad ini Turki Usmani telah mengalami kemunduran pesat karena kekuatan Eropa yang semakin kuat dan semakin berkuasa di tanah Turki. Tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan, walaupun Turki Usmani mengirimkan sejumlah utusannya ke Aceh.

Setelah sekian lama tidak berhubungan dengan Aceh, Turki kembali mengirimkan bantuan kemanusiaannya setelah bencana gempa dan tsunami terjadi pada akhir tahun 2004. Tidak hanya berhenti pada saat itu, Turki terus melanjutkan bantuannya dengan mendirikan Sekolah Fatih dan juga memberikan bantuan berupa beasiswa bagi pemuda-pemudi Aceh yang ingin melanjutkan pendidikan S1, S2 dan S3 ke Turki. 

Setiap tahunnya sejak tahun 2007, jumlah masyarakat Aceh yang menempuh studi di Turki semakin bertambah, khususnya pada tingkat strata-1 dengan bidang ilmu yang bervariasi seperti teknik, kedokteran, politik, komputer, hingga sejarah. Semoga saja persahabatan dua negara muslim ini akan mengulangi kejayaan Islam seperti abad keemasan Islam pada masa lalu.

Hikayat Perang Sabi Yang Ditakuti Dunia

Hikayat Prang Sabi adalah sebuah hikayat yang diciptakan atau dikarang oleh Tgk Chik Pante Kulu yang merupakan sebuah syair kepahlawanan yang membentuk suatu irama dan nada yang sangat heroik yang membangkitkan semangat para pejuang Aceh dari zaman penjajahan portugis sampai zaman penjajahan Belanda.
Hikayat Perang Sabi Yang Ditakuti Dunia
Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam menentukan perjuangan rakyat Aceh. Memang sejak dulu bangsa Aceh sangat akrab dengan syair-syair perjuangan Islam, sajak-sajak akan sebuah hakikat keadilan. Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak aceh, laki-laki, perempuan, tua muda, besar kecil dari zaman ke zaman dalam sejarah Aceh Sepanjang Abad.

Kalau kita belajar dari sejarah, maka Aceh lah negeri yang paling ditakuti oleh Portugis dan sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda sejak tahun 1873 serta Jepang. Beribu macam taktik perang yang digunakan oleh para penjajah tetapi tidak dapat menguasai Aceh yang unggul dengan taktik perang gerilyanya. Sejarah mencatat bahwa perang kolonial di Aceh adalah yang paling alot, paling lama, dan paling banyak memakan biaya perang dan korban jiwa penjajah.

Pengaruh hikayat perang sabil hasil karangannya, telah mampu membangkitkan semangat jihad siapa saja yang membaca ataupun mendengarnya untuk terjun ke medan perang melawan penjajahan Belanda ketika itu. Sehingga Zentgraf dalam bukunya “Aceh” (1983) menulis banyak pemuda yang memantapkan langkahnya ke medan perang Aceh melawan Belanda karena pengaruh buku hikayat perang sabil yang sengaja ditulis seorang ulama besar Aceh bernama Tgk. Muhammad Pante Kulu.

Menurut Zentgraf, hikayat perang sabil karangan ulama Pante Kulu telah menjadi momok yang sangat ditakuti oleh Belanda, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan-apalagi membaca hikayat perang sabil itu mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia Belanda dengan membuangnya ke Papua atau Nusa Kembangan. 

Sarjana Belanda ini menyimpulkan, bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati, kecuali hikayat perang sabil karya Pante Kulu dari Aceh. Kalau pun ada karya sastrawan Perancis La Marseillaise dalam masa Revolusi Perancis, dan karya Common Sense dalam masa perang kemerdekaan Amerika, namun kedua karya sastra itu tidak sebesar pengaruh hikayat perang sabil yang dihasilkan Muhammad Pante Kulu.

Itu sebabnya, Ali Hasjmy menilai bahwa hikayat perang sabil yang ditulis Tgk. Chik Pante Kulu telah berhasil menjadi karya sastra puisi terbesar di dunia. Menurut Hasjmy, pengaruh syair hikayat perang sabil sama halnya dengan pengaruh syair-syair perang yang ditulis oleh Hasan bin Sabit dalam mengobarkan semangat jihad umat Islam di zaman Rasulullah. Atau paling tidak, hikayat perang sabil karya Chik Pante Kulu dapat disamakan dengan illias dan Odyssea dalam kesusastraan epos karya pujangga Homerus di zaman “Epic Era” Yunany sekitar tahun 700-900 sebelum Mesehi.

Mengapa hikayat perang sabil begitu berpengaruh dalam membangkitkan semangat jihat perang orang Aceh melawan Belanda. Menurut telaahan, hikayat perang sabil yang ditulis Chik Pente Kulu ini terdiri dari empat bagian (cerita). Pertama, mengisahkan tentang Ainul Mardhiah, sosok bidadari dari syurga yang menanti jodohnya orang-orang syahid yang berperang di jalan Allah. Kedua, mengisahkan pahala syahid bagi orang-orang yang tewas dalam perang sabil. Ketiga, mengisahkan tentang Said Salamy, seorang Habsi berkulit hitam dan buruk rupa. Keempat, menceritakan tentang kisah Muda Belia yang sangat mempengaruhi jiwa para pemuda untuk berjihat di medan perang melawan kezaliman penjajahan Belanda.

Ada dua Versi pendapat tentang Tgk. Chik Pente Kulu dalam mengarang hikayat perang sabil ini. Sebagian mengatakan, hikayat perang sabil ini dikarang Chik Pante Kulu ketika beliau dalam perjalanan pulang dari Mekkah ke Aceh. Berarti hikayat perang sabil ditulis Chik Pante Kulu di atas kapal selama dalam pelayarannya dari Arab ke Aceh. Pendapat lain mengatakan, hikayat perang sabil ini ditulis Chik Pante Kulu adalah atas suruhan Tgk. Chik Abdul Wahab Tanoh Abee yang lebih dikenal Tgk. Chik Tanoh Abee.

Karena, pada waktu Tgk. Muhammad Saman Ditiro meminta izin pada Tgk. Chik Tanoh Abee untuk berperang melawan Belanda. Maka saat itu Tgk. Chik Tanoh Abee menanyakan pada Tgk. Chik Ditiro: “Soe yang muprang dan soe yang taprang?”. Chik Ditiro menjawab: “Yang muprang Muhammad Saman, yang taprang kafe Belanda”. Menurut hikayat marga tanoh abee, sekiranya waktu itu Chik Ditiro menjawab, yang muprang ureung Islam, yang taprang Belanda. Kemungkinan Tgk. Chik Tanoh Abee tidak merestui Chik Ditiro untuk berperang, karena kalau orang Islam yang berperang, karena di kalangan orang Islam sendiri masih banyak yang harus diperangi, yaitu orang-orang yang bukan Islam sejati.

Tetapi karena jawaban Tgk. Chik Ditiro: yang muprang Muhammad Saman dan yang taprang kafe Belanda, maka Tgk. Chik Tanoh Abee merestui Tgk. Chik Ditiro menggerakkan peperangan untuk melawan Belanda. Dalam mendukung gerakan perang ini Tgk. Chik Tanoh Abee mengarang khusus hikayat perang sabil dalam bahasa Arab untuk pimpinan-pimpinan perang. Sedangkan untuk lasykar perang hikayat perang sabilnya dikarang oleh Tgk. Chik Pante Kulu dalam huruf Jawi berhasa Aceh, yang kemudian hikayat perang sabil karangan Tgk. Chik Pante Kulu ini membawa pengaruh luar biasa dalam membangkitkan semangat jihad lasykar Aceh berperang melawan Belanda.

Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi adalah pendahuluan atau mukadimah. Bagian yang juga berbentuk syair ini menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya Hikayat Prang Sabi, dalam hubungannya dengan perang melawan Belanda. Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk perang Sabil. Juga disebutkan satu pahala yang dapat diperoleh bagi mereka yang berjihad dalam perang Sabil (jalan Allah-Red). Salah satu pahala yang akan diterima mereka yang mati syahid dalam perang tersebut adalah akan bertemu dengan dara-dara dari surga ( Bidadari ).

HIKAYAT PRANG SABI
Salam alaikom walaikom teungku meutuah
Katrok neulangkah neulangkah neuwo bak kamoe
Amanah nabi...ya nabi hana meu ubah-meu ubah
Syuruga indah...ya Allah pahala prang sabi....
Ureueng syahid la syahid bek ta khun matee
Beuthat beutan lee...ya Allah nyawoung lam badan
Ban saree keunueng la keunueng senjata kafee la kafee
Keunan datang...ya Allah pemuda seudang...
Djimat kipah la kipah saboh bak jaroe
Jipreh judo woe ya Allah dalam prang sabi
Gugor disinan-disinan neuba u dalam-u dalam
Neupuduk sajan ya Allah ateuh kurusi...
Ija puteh la puteh geusampoh darah
Ija mirah...ya Allah geusampoh gaki
Rupa geuh puteh la puteh sang sang buleuen trang di awan
Wat tapandang...ya Allah seunang lam hatee...
Darah nyang ha-nyi nyang ha-nyi gadoh di badan
Geuganto le tuhan...ya Allah deungan kasturi
Di kamoe Aceh la Aceh darah peujuang-peujuang
Neubi beu mayang...ya Allah Aceh mulia...
Subhanallah wahdahu wabi hamdihi
Khalikul badri wa laili adza wa jalla
Ulon peujoe Poe sidroe Poe syukoe keu rabbi ya aini
Keu kamoe neubri beu suci Aceh mulia...
Tajak prang meusoh beureuntoh dum sitre nabi
Yang meu ungkhi ke rabbi keu poe yang esa
Soe nyang hantem prang chit malang ceulaka tubuh rugoe roh
Syuruga tan roeh rugoe roh bala neuraka...
Soe-soe nyang tem prang cit meunang meutuwah teuboh
Syuruga that roeh nyang leusoeh neubri keugata
Lindong gata sigala nyang muhajidin mursalin
Jeut-jeut mukim ikeulim Aceh mulia...
Nyang meubahagia seujahtera syahid dalam prang
Allah peulang dendayang budiadari
Oeh kasiwa-sirawa syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamông syuruga tinggi...
Budiyadari meuriti di dong dji pandang
Di cut abang jak meucang dalam prang sabi
Oh ka judo teungku syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamong syuruga tinggi...
Tidak mengherankan, Sehingga kemudian penyair Taufik Ismail mengabadikan kehebatan hikayat perang sabil karya Tgk. Chik Pante Kulu ini dalam sebuah syair panjangnya berjudul : “Teringat Hamba Pada Syuhada Kita Dihari Kemerdekaan, Musim Haji 1406 H”. Taufik bersyair:…
Nampakkah olehmu puisi itu?
Diserahkan kepada Teungku Chik Ditiro
Di sebuah desa di dekat Sigli
Dan puisi itu berubah menjadi sejuta Rencong...
Terdengarkah olehmu?
Merdunya Al Furqan dinyanyikan
Kemudian puisi perang sabi dibacakan
Yang mendidih darah memanggang udara
Menjelang setiap pasukan terlibat pertempuran
Mengibarkan Panji fi-sabilillah…
Hamba menulis puisi juga
Tapi betapa kurus puisi hamba
Kurang sikap ikhlas hamba
Banyak ria dan ingin tepuk tangan...
Apalah artinya dibandingkan puisi Perang sabi Muhammad Pante Kulu ...
Allah, berkahi penyair abad sembilan belas ini
Beri dia firdaus seluas langit bumi…
Begitu hebatnya Tgk. Chik Pante Kulu di mata penyair Taufik Ismail. Sampai-sampai Taufik menilai puisi-puisi yang ditulisnya selama ini belum memiliki arti apa-apa dibandingkan kebesaran syair hikayat perang sabil yang ditulis Tgk. Chik Pante Kulu. Ulama dan pujanggawan kelahiran 1836 M di Desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kota Bakti, Pidie ini, telah lama meninggalkan kita. Namun hikayat perang sabil yang ditinggalkan tetap hidup di jiwa orang yang memang Aceh sebagai hasil karya sastra terbesar yang diakui dunia pada zamannya.
TOLONG SEBARKAN SEBANYAK BANYAK NYA DEMI GENERASI SESUDAH KITA NANTI.

Memprihatinkan, Sisi Gelap Kehidupan ABG di Aceh

Perilaku menyimpang di kalangan anak baru gede (ABG) hingga mahasiswa di Aceh kian mengkhawatirkan. Sebagian di antara mereka kini terjebak dalam pusaran pergaulan bebas, termasuk seks bebas dan pornografi. 
Memprihatinkan, Sisi Gelap Kehidupan ABG di Aceh
Seperti apakah sisi gelap kehidupan ABG dan mahasiswa di Aceh kini? Perilaku menyimpang di kalangan remaja Aceh berdasarkan hasil survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengungkap, dari 40 siswa yang disurvei, ditemukan bahwa 90 persen di antaranya pernah mengakses film dan foto porno. 

Sebanyak 40 persen lainnya mengaku pernah menyentuh organ intim pasangannya. Fakta lebih mengagetkan, sebanyak lima dari 40 siswa mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah bersama pacar. 

Penelitian ini dilakukan di satu pesantren dan tiga SMU di Banda Aceh dan Aceh Besar. "Setiap sekolah kita ambil 10 siswa diacak dari kelas satu, dua, dan tiga, masing-masing responden punya perbedaan karakter," kata Agus Agandi, staf PKBI, beberapa waktu lalu.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perubahan perilaku remaja di Aceh yang kian mengkhawatirkan, baik pola pergaulan maupun pergeseran moral.

Menurut pengakuan siswa, akses film porno mereka peroleh dari perangkat teknologi komunikasi seperti handpone dengan media internet maupun bertukar flashdisk sesama teman sebaya.

Agus menyebutkan, kondisi yang lebih menyedihkan justru terjadi terhadap siswa yang sudah memiliki pengalaman berhubungan seks di usia sekolah. Korban sebagian besarnya wanita.

Beberapa sekolah melaporkan ada siswi yang dropout menjelang Ujian Nasional (UN) karena kedapatan hamil. "Setiap akan menjelang Ujian Nasional, banyak siswi yang keluar dari sekolah karena ketahuan hamil. Ini terjadi di Banda Aceh dan Aceh Besar," ujarnya.

Seks bebas
Penelusuran di sebuah hotel berkelas di Banda Aceh menunjukkan, banyak remaja usia ABG dengan mudah mendapat akses masuk ke tempat-tempat khusus orang dewasa, seperti bar dan diskotik, yang dekat dengan narkoba dan kehidupan seks bebas.

Agus menyebutkan, meski ada fakta demikian, bukan sebuah tindakan bijak menyalahkan perilaku menyimpang remaja tersebut kepada mereka. Keluarga, lingkungan, dan institusi pendidikan menjadi faktor paling dominan membentuk perilaku mereka. 

"Siapa yang bisa menjamin kalau mereka tidak mengakses konten porno saat sendiri di kamar," ujar Agus.

Menurutnya, usia remaja merupakan masa transisi menuju kedewasaan. Pada masa ini, remaja tengah mencari jati dirinya. Pada masa ini pula, remaja mengalami apa yang disebut pubertas dan munculnya rasa ingin tahu, termasuk dalam hal mengeksploitasi dirinya secara seksual.

Bagi wanita yang dalam masa transisi menuju dewasa, persoalannya semakin kompleks. Hal ini terkait dengan mulai berkembangnya bagian-bagian tubuh yang sensitif hingga terjadi perubahan pada sistem reproduksi.

"Pada masa transisi ini, mereka perlu didampingi agar mendapat informasi yang benar, seperti halnya mengenalkan mereka fungsi alat-alat reproduksi agar mereka tidak salah memahaminya," ujar dia.

"Kasus hamil di luar nikah juga kerap menimpa wanita remaja di kampung-kampung. Sebagian besar mereka tertutup akses informasi, sementara mereka yang di kota sudah mengetahui cara yang aman berhubungan seks karena terbukanya akses informasi," ujarnya. 
Sumber : Serambi Indonesia

Budha Myanmar Ancam Akan Menyerang Aceh, Rakyat Aceh Siap Perang

Terkait ancaman dari tokoh Buddha radikal asal Myanmar Ashin Wirathu  terhadap Aceh akibat diterapkan hukuman cambuk yang diberlakukan terhadap penganut Buddha di Aceh. Sejumlah masyarakat siap menerima tantangan sang radikal tersebut.
Budha Myanmar Ancam Akan Menyerang Aceh
"Pas sekali ancaman itu, karena kami dah lama menunggu perang dengan tokoh radikal yang membasmi muslim Rohingya itu, dan kami siap perang dengan mereka," tutur salah seorang di warkop Ulee Kareng Banda Aceh.

Bukan hanya dii sejumlah warung jadi perbincangan ancaman Tokoh Budha tersebut, bahkan di jejaring sosialpun menjadi heboh bahkan siap jihad para pemuda yang ada di Aceh untuk melawan Budhis tersebut. "Kami siap perang dengan mereka sampai darah penghabisan," tutur seorang pengguna medsos di Group GARAM.

Menurut para sumber, Rakyat yang diindentik dengan karakter militer jjangan sekali-kali memancing ancaman, karena tampa dijual rakyat Aceh siap untuk dibeli, dan Aceh dari dulu hobi dengan perang, apa lagi membela Islam, rakyat Aceh rela mati demi Agama.

Diberitakan sebelumnya, tokoh Buddha radikal asal Myanmar, Wirathu mengecam keras hukuman cambuk yang diberlakukan terhadap penganut Buddha di Aceh.

Biksu yang bertanggungjawab atas tewasnya ribuan muslim Rohingya ini mengancam akan menyerang Aceh dan nelayan Indonesia yang ketahuan berlayar di area mereka. “Tidak ada satu pun umat Buddha yang dianiaya kecuali kami akan membalasnya, ” tuturnya.
sumber: http://ift.tt/2m1qsbJ

Senin, 13 Maret 2017

keturunan Raja Aceh Masih Ada Kenapa Wali Nya Yang Berkuasa

Sejumlah keturunan raja di berbagai wilayah di Aceh mulai menujukkan jati diri mereka. Sembilan garis keturunan raja Aceh berkumpul di aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk membicarakan eksistensi keturunan raja dalam membangun Aceh di masa depan.
Para keturunan raja di Aceh ini berembuk membentuk membentuk forum komunikasi untuk menyelamatkan sejarah yang mulai dilupakan.
keturunan Raja Aceh Masih Ada Kenapa Wali Nya Yang Berkuasa
Pertemuan perdana para keturunan raja ini dihelat di Dinas Pariwisata Aceh, Banda Aceh, Selasa (26/2/2013). Pertemuan ini dihadiri sembilan keturunan raja, masing-masing dari Kerajaan Pidie, Raja Nagan, Raja Negeri Daya, Raja Pasee, Raja Peurelak, Raja Aceh, Raja Trumon, Raja Tamiang, dan Raja Linge.
Pertemuan ini dipimpin oleh Teuku Zulkarnain, dari keturunan Raja Nagan dan Teuku Saifullah, pemangku Raya Daya ke-13. “Pertemuan ini bertujuan untuk mempersatu keturunan raja yang ada di Aceh,” kata Zulkarnain dalam sambutannya,

Menurut Teuku Zulkarnain, selain membentuk forum komunikasi antarketurunan raja di Aceh, pertemuan ini diharapkan bisa membuka wawasan budaya silam bagi keturunan raja. Forum ini juga untuk menunjukkan jati diri Aceh yang pernah berjaya dengan kerajaan.

“Forum ini perlu kita buat untuk mempertahankan komunikasi antarketurunan raja sehingga semakin kuat. Fokus forum ini sebagai perkumpulan keturunan raja. Bukan politik,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua panitia, Marzuki mengatakan, forum komunikasi ini di bentuk untuk mengenang kembali sejarah kerajaan Aceh yang kini mulai dilupakan.

Raja adalah sosok yang diagungkan, bukanlah orang dalam pemerintahan. Selain kerajaan, lanjut dia, di Aceh juga terdapat kesultanan yang bertugas untuk mengatur seluruh raja-raja yang ada di Aceh.

Sejumlah keturunan raja di Aceh melakukan pertemuan dengan Dinas Pariwisata Provinsi Aceh, di Banda Aceh, Selasa 26 Februari 2013. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membentuk forum silaturahmi para keturunan raja raja dalam melestarikan budaya dan sejarah di Aceh.

Dengan adanya forum keturunan raja Aceh ini diharapkan dapat memecah kebuntuan sejarah Aceh masa lalu dan masa kini serta mencegah generasi muda Aceh menjadi sesat dalam mengenal sejarahnya sendiri, sehingga seolah-olah sejarah Aceh hanya dimuai semenjak Hasan Tiro memproklamirkan Aceh Merdeka. Kesalahan ini yang harus diperbaiki dan diluruskan, jika tidak generasi Aceh yang akan datang akan membangun sejarahnya sendiri tanpa landasan sejarah para pendahulunya yang pada akhirnya generasi ini tidak pernah belajar dan hanya mengulang-ulang kesalahan yang sama sebagaimana pendahulunya lakukan. (Atjehgroup)
Maka sepahit apapun sejarah harus dikemukakan apa adanya dengan benar. Tidak perlu dibelok-belokkan. Membuka kebenaran sejarah jangan dimaknai sebagai upaya menggetarkan luka lama dan melahirkan dendam, tapi justru harus disikapi secara dewasa agar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan.

Silsilah raja raja kerajaan aceh darussalam
sultan alaidin ali mughayat syah 916-936 H (1511 – 1530 M)
sultan salahuddin 939-945 H (1530 – 1539M)
sultan alaidin riayat syah II, terkenal dengan nama AL Qahhar 945 – 979 H (1539 – 1571M)
sultan husain alaidin riayat syah III, 979 – 987 H (1571 – 1579 M)
sultan muda bin husain syah, usia 7 bulan, menjadi raja selama 28 hari
sultan mughal seri alam pariaman syah,987 H (1579M) selama 20 hari
sultan zainal abidin, 987 – 988 H (1579 – 1580 M)
sultan aialidin mansyur syah, 989 -995H (1581 -1587M)
sultan mugyat bujang, 995 – 997 H (1587 – 1589M)
sultan alaidin riayat syah IV, 997 – 1011 H (1589 – 1604M)
sultan muda ali riayat syah V 1011 – 1015 H (1604 – 1607M)
sultan iskandar muda dharma wangsa perkasa alam syah 1016 – 1045H (1607 – 1636M)
sultan mughayat syah iskandar sani,1045 – 1050 H (1636 – 1641M)
sultanah sri ratu tajul alam safiatuddin johan berdaulat, 1050-1086H (1641 – 1671M)
sultanah sri ratu nurul alam naqiatuddin (anak angkat safiatuddin), 1086 – 1088 H (1675-1678 M)
sultanah sri ratu zakiatuddin inayat syah (putri dari naqiatuddin) 1088 – 1098 H (1678 – 1688M)
sultanah sri ratu kemalat syah (anak angkat safiatuddin) 1098 – 1109 H (1688 – 1699M)
sultan badrul alam syarif hasyim jamalul lail 1110 – 1113 H (1699 – 1702M)
sultan perkasa alam syarif lamtoi bin syarif ibrahim. 1113 – 1115H (1702 -1703 M)
sultan jamalul alam badrul munir bin syarif hasyim 1115 – 1139 H (1703 – 1726M)
sultan jauharul alam imaduddin,1139H (1729M)
sultan syamsul alam wandi teubeueng
sultan alaidin maharaja lila ahmad syah 1139 – 1147H (1727 – 1735H)
sultan alaidin johan syah 1147 – 1174 (1735-1760M)
sultan alaidin mahmud syah 1174 -1195 H (1760 – 1781M)
sultan alaidin muhammad syah 1195 -1209 H (1781 – 1795M)
sultan husain alaidin jauharul alamsyah,1209 -1238 H (1795-1823M)
sultan alaidin muhammad daud syah 1238 – 1251 H (1823 – 1836M)
sultan sulaiman ali alaidin iskandar syah 1251-1286 H (1836 – 1870 M)
sultan alaidin mahmud syah 1286 – 1290 H (1870 – 1874M)
sultan alaidin muhammad daud syah, 1290 -…..H (1884 -1903 M)

sultan alaiddin muhammad daud syah adalah sultan terakhir dari kerajaan
aceh darussalam, beliau berjuang dan bergerilya selama 29 tahun dan
beliau tidak pernah menyerahkan kedaulatan negaranya kepada pihak
belanda. pada tahun 1903 beliau ditangkap oleh belanda dan diasingkan ke ambon,
maluku dan terakhir dipindahkan ke jawa. beliau mangkat dijakarta pada
tahun 1939.
silsilah pemimpin kerajaan aceh yang di kutip dari buku tawarikh raja- raja kerajaan aceh. oleh Tgk M Yunus Jamil.

sumber: http://ift.tt/2nmfrDC

Malek Mahmud: Wali Nanggroe atau Vampire Penghisap Darah?

Siapa (seharusnya) Sang Wali? 

1) Garis Keturunan Kesultanan Aceh? sebagai pewaris sah kesultanan Aceh sekaligus ketua Madjelis Tuha Peut yang merupakan Madjelis tertinggi dalam Kesultanan Aceh. 

ATAUKAH 

2) Hasil Rapat Internal/Tertutup GAM di Stavanger, Norwegia 2002 yang menunjuk Hasan Tiro (Pimpinan Rapat) sebagai Wali Nanggroe dan Malek Mahmud sebagai Pemangku Wali.
Malek Mahmud: Wali Nanggroe atau Vampire Penghisap Darah?
Sedikit uraian tentang Malek Mahmud
Malek Mahmud adalah warga negara Singapura saat ditetapkan sebagai Pemangku Wali Nanggroe 10 tahun lalu, demikian pula halnya dengan Hasan Tiro yang warga Negara Swedia. Namun berbeda dengan Hasan Tiro, Malek Mahmud tidak mengalami masa-masa kecilnya di Aceh, demikian juga halnya dengan saudara dan keluarganya yang lebih lama tinggal di Singapura daripada hidup di Aceh. Pun demikian pada masa konflik, dimana Malek Mahmud berada di Swedia bersama Hasan Tiro. 

Berangkat dari pemahaman ini, Malek Mahmud sangat jelas “tidak dekat” dengan budaya dan adat istiadat Aceh apalagi sejarah Aceh. Keadaan di atas menyebabkan Malek Mahmud tidak dikenal di kalangan masyarakat adat Aceh, ia memang sangat dikenal di kalangan GAM atau KPA/PA sebagai Perdana Menteri GAM namun bukankah Aceh bukan milik mantan kombatan GAM semata? bagaimana dapat diterima oleh masyarakat Aceh jika dikenal pun tidak?

Lembaga Wali Nanggroe Lembaga Wali Nanggroe adalah lembaga kepemimpinan adatsebagai pemersatu masyarakat yang independen, berwibawa dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga adat, adat istiadat, bahasa dan pemberian gelar gelar dan derajat atau upacara-upacara adat lainnya. Secara harfiah dapat kita pahami bahwa lembaga Wali Nanggroe merupakan kepemimpinan adat. Sebagaimana diketahui, setidaknya terdapat 3 kepemimpinan dalam kehidupan masyarakat Aceh selama ini, yaitu; 

1. Kepemimpinan politik, 
2. Kepemimpinan agama, 
3. Kepemimpinan adat.

Maka dengan penegasan sebagai seorang “Pemimpin Adat”, kedudukan sang Wali Nanggroe sebenarnya sudah cukup jelas yang dengan Sikap dan Sifat yang “independen”, maka lembaga tersebut dan pemangku "Wali Nanggroe" berada di luar jalur politik bukan dalam lingkaran Partai Politik. Namun apa yang terjadi? dalam Raqan LWN terdapat sejumlah poin memberikan hak-hak prerogatif kepada Wali Nanggroe antara lain, menguasai semua kekayaan (boinah) Aceh di dalam dan di luar Nanggroe, Memberhentikan/Menon-aktifkan Gubernur (eksekutif), Membubarkan parlemen (legislatif), Memberlakukan keadaan darurat, Memberi gelar (Teungku, Tuanku, Teuku dan lain-lain) kepada siapa dikehendaki dan lain-lain. 

Inilah pasal-pasal, yang menurut banyak pihak, bertabrakan langsung dengan UUPA itu sendiri dan melanggar konstitusi RI. Saya pernah membaca sebuah tulisan dari seorang warga Aceh yang berada di Stockholm, Swedia. pernah menulis mengenai Rancangan Undang Undang Pemerintah Aceh yang berkenaan dengan Lembaga Wali Nanggroe yang kini (entah bagaimana bisa) di pangku oleh Malek Mahmud sang mantan Perdana Menteri GAM, padahal ia sama sekali bukan berasal dari kalangan Ulee Balang ataupun Tuha Peut yang memang berpangkat sebagai Wali Adat di dalam sistem tata adat masyarakat Aceh sejak jaman dahulu.

Kriteria Wali Nanggroe 
Dalam pasal 15 draft Raqan Wali Nanggroe 2010, ada 19 kriteria yang ditetapkan, di antara lain: beragama Islam, dari keturunan yang baik dan keturunan wali-wali sebelumnya, tidak dzalim, alim, arif, amanah, terpelihara dari hawa nafsu jahat, menguasai bahasa asing dengan lancar, paling kurang bahasa Arab dan Inggris dan lain sebagainya. 

Kriteria di atas mengingatkan saya pada tulisan Yusuf Daud seorang warga Aceh yang tinggal di Stockholm, Swedia, yang becerita pada sebuah peristiwa yang terjadi di Stockholm, Swedia. Pada awal tahun 1992 dalam pertemuan rutin dengan almarhum Teungku Hasan di Tiro di sebuah rumah. Kala itu, pemikiran Wali berkecamuk karena tragedi-tragedi kemanusian di nanggroe dan persoalan lain. 

Seorang kawan yang galak (suka dimarah-marah) melemparkan pertanyaan kepada wali: siapa kira-kira penggantinya kalau sewaktu-waktu beliau ditakdirkan meninggal dunia. Secara emosional wali menjawabnya: “Tidak ada, tidak ada”. Kawan saya ini tidak mau kalah dan mengorek lagi: “Mungkin pengganti wali nanti ada di sini atau di Malaysia?” "Ah…tidak. Tidak ada di sini dan tidak ada di Malaysia." jawabnya spontan. 

Semua terdiam sejenak. Kemudian, Wali membeberkan panjang lebar kriteria pengganti beliau. Menurut beliau, wali nanggroe harus dari kalangan ulama, bisa berbahasa Arab dan Inggris, sanggup memberi tafsir al-Quran dan menulis buku. Harus dari kalangan intelektual yang paham ilmu tata negara, hubungan internasional dan etiket pergaulan antarabangsa. Dalam hal ini, Wali menyebut nama intelektual Iran Dr Ali Syariati, sebagai tipe seorang intelektual Islam yang ia kagumi dan sangat paham dengan cara berfikir orang Barat. 

Wali menyebutkan beberapa ulama besar Iran seperti Ayatullah Murtada Mutahhari dan lain-lain. Secara langsung, Wali tidak pernah menyebut penggantinya harus dari keluarga di Tiro. Yang lebih utama lagi, Wali mengatakan suksesornya ada di Aceh bukan anak tunggalnya Karim di Amerika. Kami hanya bisa meraba, yang dimaksud itu adalah Tengku Darul Kamal (alm) yang juga seorang keluarga di Tiro sebelah perempuan. Sinyal ini sudah tercium semasa Tengku Darul Kamal bergerilya di hutan. 

Kriteria yang Hasan Tiro maksudkan itu adalah untuk seorang Wali Negara (kepala Negara) yang merdeka dan berdaulat bukan wali nanggroe sebagai pemimpin tertinggi adat di salah satu propinsi di Indonesia, sebagaimana yang diamanatkan UUPA. Walaupun Qanun LWN masih dalam proses, kriteria kandidat wali telah mulai disuarakan, seperti yang dinyatakan Irwandi Yusuf disela-sela peletakan batu pertama Meuligoe Wali Nanggroe, di mana ia mengatakan bahwa calon wali nanggroe haruslah orang yang bisa mengenal Aceh secara lengkap, tidak sepenggal-sepenggal.

Apapun bentuk hasil akhir Qanun LWN yang akan disahkan, kriteria Wali Nanggroe harus seorang yang sangat bijak dan berwibawa, mengenal dan dikenal luas masyarakat, tidak berpihak atau independen, memiliki latar-belakang yang bersih, bukan eks kriminal, memiliki ilmu pengetahuan agama Islam dan pengetahuan umum yang memadai dan sebagainya. 

Kriteria pemimpin tertinggi adat menurut standar Aceh paling kurang bisa membaca Quran dengan fasih (bukan qari), menjadi imam shalat berjamaah atau khatib Jumat, kalau ada permintaan, bisa membaca doa selamat untuk keperluan apa saja. 

Nah, siapa bisa mengkaji kalau calon wali nanggroe yang diusul Komisi A dalam draft raqannya memenuhi syarat dan kriteria yang mereka buat sendiri dan yang saya sebut di atas tadi? Terlepas dari itu, untuk merumuskan Raqan Wali Nanggroe harus ditinjau dari segala aspek, supaya tidak bertabrakan dengan nilai-nilai Syariah, HAM, demokrasi dan norma-norma lain yang dianut masyarakat Aceh sekarang. 

Memanipulasi Sejarah Aceh 
Beberapa tahun lalu jauh sebelum hiruk-pikuk ini terjadi, anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Partai Aceh (PA) sudah mencalonkan kandidat Wali Nanggroe dari kelompoknya sendiri dan sudah siap pakai. Pada bagian keenam, pasal 14, ayat ke satu, Tengku Hasan Tiro disebut sebagai Wali Nanggroe Aceh kedelapan. 

Pertanyaan: di manakah mereka mengambil referensinya? Sedangkan dalam buku-buku yang ditulis oleh Hasan Tiro di antaranya, ACHEH NEW BIRTH OF FREEDOM, yang diterbitkan oleh parlemen Inggris House of Lords, satu Mei, 1992, dalam appendix II, nama Tengku Hasan termaktub sebagai penguasa (ruler) Aceh yang ke 41 yang dimulai pada Sultan Ali Mughayat Syah (1500-1530) sampai kepada dirinya (1976-2010). 

Apa yang menjadi pijakan tim perumus ketika menempatkan Tengku Hasan di Tiro sebagai raja Aceh ke delapan yang dimulai dari Tgk Syeh Muhammad Saman di Tiro sebagai raja Aceh pertama dan diakhiri oleh cicitnya Tengku Hasan di Tiro. Mereka ingin menghidupkan kembali dinasti di Tiro dengan memangkas semua raja-raja yang terdahulu, mulai dari Sultan Ali Mughayat Syah (1500-1530) sampai kepada Sultan Muhammad Dawud Syah (1874-1903). Ini merupakan sebuah tindakan Coup D’Etat ke atas sejarah Aceh. 

Dalam pasal yang sama, ayat kedua disebutkan Malek Mahmud sebagai perdana menteri dalam rapat sigom donya di Stavanger, Norwegia pada 2 Juli 2002, otomatis dapat menggantikan kedudukan Hasan Tiro sebagai pemangku jabatan wali nanggroe ketika beliau meninggal. Pertama, Rapat tertutup intern GAM di Stavanger pada 2 Juli 2002 yang dihadiri oleh sebagian masyarakat Aceh di perantauan, khususnya dari Denmark dan Norwegia, tidak bisa dibuktikan validitasnya. 

Kedua, pelantikan Malek Mahmud (MM) sebagai perdana menteri hanya mengada-ada dan perlu dibuktikan. Ketiga, kedudukan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan tidak bisa menggantikan kedudukan Wali Neugara sebagai kepala Negara walau dalam keadaan darurat sekalipun. 

Ketika Carl XIII menggantikan kemenakannya sebagai Raja Swedia pada tahun 1809, dia tidak memiliki keturunan. Dan satu-satunya anak angkatnya, putra mahkota Kristian August mangkat pada tahun 1810. Swedia memerlukan putra mahkota yang baru untuk menggantikan Raja Carl VIII setelah ia mangkat. Kerajaan bermusyawarah dan akhirnya mengirim utusan ke Perancis untuk menawarkan kedudukan tersebut kepada salah seorang marsekal Perancis Bernadotte yang paling dekat hubungan keluarga dengan Kaisar Napoleon. 

Pada tanggal 21 Agustus 1810 Parlemen Swedia (Riksdag of the Estates) memilih Jean Baptiste Bernadotte sebagai putra mahkota Sweden. Dan putra mahkota baru ini dinobatkan sebagai Carl Johan. Jadi, sejak 1818 Swedia diperintah oleh keturunan Barnadotte termasuk juga Norway antara 1818 dan 1905, ketika negara ini masih bersatu (union) dengan Swedia. 

Besar kemungkinan Malek Mahmud (MM) pernah membaca silsilah raja-raja Swedia ketika duduk-duduk di kedai kebab Turki di Swedia dan terinspirasi dengan kejadian tersebut. Untuk menjadi seorang raja tidak harus dari keturunan raja-raja. 

Mungkin juga terinspirasi ala Menteri Luar Negeri Aceh Habib Abdurrahman Zahir mempenetrasi inner circle kerajaaan Aceh dalam masa singkat dengan mendekati dan mengontrol Ulee Balang yang dipercayai Sultan sehingga dia pun mendapat kepercayaan Sultan. Kenyataannya, Malek Mahmud menggunakan metode yang sama dan malah jauh lebih sadis. 

Mula-mula menguatkan posisi keurabeuek setelah Hasan Tiro kena stroke pada Mai 1997, kemudian mengambil alih kekuasan perlahan-lahan dan akhirnya semua keurabeuek berada dalam genggamannya sampai-sampai darah biru milik endatunya yang suci itu disuntik ke dalam tubuh Malik Mahmud. Sebagian keurabeuëk yang terlanjur mempercayainya dan memprotes akhirnya disingkirkan.

Harkat dan Martabat dalam 50 Miliar uang Rakyat Muhammad Zaini, Gubernur Aceh menilai anggaran 50 Miliar untuk biaya Seremoni Pelantikan sang Wali Nanggroe, Malek Mahmud tersebut adalah wajar, untuk meningkatkan harkat dan martabat Wali Nanggroe. Pengalokasian anggaran daerah sebesar Rp50 miliar dalam rangka pengukuhan Wali Nanggroe pada Desember 2013 mendatang, terlalu besar, jika melihat masih banyaknya kebutuhan rakyat Aceh saat ini yang provinsinya termasuk diurutan ketiga termiskin di Indonesia setelah Papua dan NTT. 

Pengusulan anggaran Rp 50 miliar oleh DPR Aceh tersebut, tidak rasional dan tidak masuk akal. Sebab anggaran Rp 50 miliar tidak substansi dan tidak mempunyai dampak dari anggaran itu sendiri. Angka Rp 50 miliar seperti itu sangat besar bagi DPR Aceh. Harusnya wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat Aceh tersebut bisa lebih bijaksana dan pintar dalam mengatur dan mengusulkan anggaran yang notabane berasal dari uang rakyat. 

Jika saja Rp 50 Miliar itu dialihkan untuk program kesejahteraan rakyat Aceh itu akan sangat membantu. Selain itu, anggaran itu lebih penting jika didorong untuk membantu masyarakat di daerah bencana dan pulau terpencil di Provinsi Aceh seperti membangun sekolah dasar dan Rumah Kaum Dhuafa. 

"Mau dibawa kemana Aceh sekarang jikalau orang yang diharapkan sebagai sosok pemersatu bukanlah orang baik yang diharapkan oleh rakyat Aceh? Bukankah Aceh ini milik kita semua? bukan hanya milik suatu kelompok ataupun partai? Jika memang benar untuk semua, lalu mengapa rapat di Stavanger Norwegia 10 tahun lalu dijadikan landasan yang sangat kuat sehingga seolah-olah “mewakili” seluruh rakyat Aceh? 

Bukankah itu rapat internal GAM? dibanding 4 juta rakyat Aceh berapa persen jumlah GAM saat itu? Situasi dan keadaan Aceh akan semakin membingungkan di tengah 18% rakyat Aceh masih hidup di bawah garis kemiskinan, ratusan ribu pengangguran yang belum memperoleh lapangan pekerjaan dan ratusan ribu lainnya masih menderita akibat korban sisa konflik.

Adakah Qanun Wali Nanggroe ini dapat merubah angka-angka itu? ataukah hanya beralasan “itu tugas pemerintah Aceh?” kalau begitu Qanun Wali Nanggroe untuk apa dan siapa?" ­– Azada Addin Maka kini, yang sangat di sesalkan oleh rakyat Aceh adalah pemimpin yang mereka pilih dari tatanan pemilihan umum yang demokrasi dirusak oleh yang mereka pilih tersebut lalu menghambur-hamburkan uang rakyat hanya untuk sekedar seremoni pengukuhan seorang Pemangku Adat dalam Masyarakat Aceh. 

Rp 50 Miliar dapat membangun ribuan sekolah dan membuka ratusan lapangan pekerjaan bagi pengangguran di Aceh, bukan untuk di foya-foyakan sebagai nafsu yang mereka sebut sebagai "Harkat dan Martabat." Aceh ku malang, Aceh ku sayang. – Zacky Rizki Ibrahim

penulis: Zacky Rizki Ibrahim / sumber : http://ift.tt/2mSH7lz

Perang Aceh, Salah Satu dari 10 Perang Terlama di Dunia

Sepanjang usianya, sejarah dunia diwarnai banyak peperangan yang disebabkan berbagai alasan. Sebagian perang merupakan konflik independen, sebagian lainnya adalah kelanjutan dari konflik terdahulu.
Perang Aceh, Salah Satu dari 10 Perang Terlama di Dunia
Hal yang pasti, perang biasanya berlangsung cukup lama. Berikut 10 perang yang memakan waktu paling lama dalam sejarah dunia.

10. Perang Vietnam

Durasi: 19 tahun (1955-1975)

Meski tidak ada deklarasi resmi, Perang Vietnam dimulai pada 1 November 1955, ketika AS menyediakan bantuan militer terhadap negeri baru Vietnam Selatan.

Saat itu Vietnam Selatan sedang berjuang menghadapi negeri tetangganya Vietnam Utara yang didukung dua negeri komunis China dan Uni Soviet.

Namun, pertempuran besar baru benar-benar terjadi pada 1963 ketika keterlibatan AS di Vietnam ditingkatkan pertama oleh Presiden John F Kennedy lalu Presiden Lyndon B Johnson.

Perang itu secara resmi berakhir pada 30 April 1975 ketika personel militer AS terakhir meninggalkan Saigon (Ho Chi Mihn City) dan Vietnam Utara menyatukan kedua negara itu menjadi Republik Sosialis Vietnam.

Jumlah korban: 2,4 juta orang tewas.

9. Perang Besar Utara

Durasi: 21 tahun (1700-1721)

Dua negara utama yang berperang adalah Rusia di bawah kepemimpian Tsar Peter yang Agung melawan Kerajaan Swedia yang dipimpin Charles XII.

Namun, beberapa negara terlibat dalam perang ini yaitu Denmark, Norwegia, Polandia, Lithuania, Kekaisaran Ottoman, dan Inggris Raya.

Rusia memenangkan perang ini dan hasil dari konflik tersebut mengubah perimbangan kekuatan di Eropa.

Usai perang ini, kekuatan Swedia menurun drastis dan hanya menjadi pemain kecil di Eropa.

Rusia, kemudian mengubah namanya menjadi Kekaisaran Rusia dengan Peter yang Agung sebagai kaisar pertama.

Kemenangan dalam perang ini juga mengubah Rusia menjadi salah satu kekuatan utama dunia.

Jumlah korban: Para sejarawan yakin jumlah korban tewas dalam pertempuran ditambah akibat penyakit, dan kelaparan mencapai lebih dari 300.000 orang.

8. Perang Punic Pertama

Durasi: 23 tahun (264-241 SM)

Ini adalah konflik pertama dari tiga perang antara negara kota Kartago (kini Tunisia) dan Republik Romawi memperebutkan jalur perdagangan di sekitar Laut Tengah.

Perang Punic yang pertama adalah yang terpanjang dari ketiga konflik bersenjata dan terutama berlangsung untuk memperebutkan Pulau Sisilia.

Dalam salah satu pertempuran yang paling dikenang, di kota Panormus (kini Palermo), pasukan Romawi tak hanya membantai 20.000 orang prajurit Kartago dalam satu hari tetapi juga menangkap 100 ekor gajah perang.

Gajah-gajah itu kemudian dikirim ke Roma, yang diyakini kemudian dibunuh dalam pertandingan gladiator di Colloseum.

Perang ini berakhir pada 241 SM dengan Romawi keluar sebagai pemenang dan mengendalikan penuh Pulau Sisilia.

Perkiraan korban: Sekitar 250.000 orang tewas.

7. Perang Peloponesia

Durasi: 27 tahun (431-404)

Setelah negara-negara kota Yunani bersatu dan mengalahkan kekaisaran Persia yang perkasa, mereka kemudian kembali ke selera awal, yaitu saling memerangi.

Dalam perang ini, Athena yang menjelma menjadi sebuah kekaisaran yang kuat memerangi Liga Peloponesia yang merupakan koalisi negara-negara kota musuh Athena.

Koalisi musuh-musuh Athena ini dipimpin negara kota yang menjadi pesaing utama Athena yaitu Sparta yang terletak di Semenanjung Peloponesia.

Perang berkobar di seluruh wilayah selatan Yunani, hingga ke Turki dan Italia selatan.

Dalam perang ini terjadi pertempuran laut Aegopostami, di lepas pantai Laut Tengah Turki.

Dalam pertempuran laut ini, Sparta mengalahkan Athena dengan menenggelamkan 150 kapal dan menewaskan 3.000 pelaut.

Beberapa bulan kemudian, Athena dikepung dan pada 404 SM menyerah kalah. Usai perang ini, dominasi Athena di Yunani tinggal sejarah.

Jumlah korban: tidak diketahui

6. Perang Mawar

Durasi: 30 tahun (1455-1485)

Ini adalah perang memperebutkan hak atas tahta kerajaan Inggris yang melibatkan pendukung dua keluarga bangsawan.

Kedua keluarga itu adalah Lancaster dengan simbol bunga mawar merah melawan Keluarga York yang memiliki lambang bunga mawar putih.

Dari simbol kedua keluarga bangsawan itu nama perang ini berasal.

Selama perang ini, mahkota kerajaan berpindah tangan sebanyak tiga kali, satu orang raja tewas dalam pertempuran, satu raja dieksekusi, dua raja meninggal wajar, serta puluhan bangsawan kehilangan nyawa.

Di akhir perang Keluarga Lancaster keluar sebagai pemenang. Henry Tudor dari keluarga Lancaster akhirnya menyingkirkan pesaingnya Richard III dari keluarga York di Pertempuran Bosworth 1485.

Setelah kemenangan itu Henry Tudor menjadi raja Inggris dengan gelar Henry III. Setahun kemudian dia menikahi Elizabeth of York untuk memperkuat posisinya.

Pernikahan ini kemudian menciptakan keluarga baru yaitu keluarga Tudor yang memerintah Inggris selama satu abad berikutnya.

Jumlah korban: sekitar 100.000 orang tewas.

5. Perang Aceh

Durasi: 31 tahun (1873-1904)

Perang ini merupakan hasil dari upaya Belanda menguasi seluruh Hindia Belanda atau kini dikenal dengan nama Indonesia.

Pada 1873, militer Belanda menyerang Kesultanan Aceh, sebuah negeri merdeka di ujung utara Pulau Sumatera.

Pada 1874, Belanda berhasil menguasai ibu kota Aceh, Kutaraja dan mendeklarasikan kemenangan dalam perang itu.

Namun, Belanda meremehkan tekad bangsa Aceh yang terus berjuang menggunakan taktik perang gerilya yang menyeret Belanda dalam perang panjang selama 31 tahun.

Pada akhir 1890-an, Belanda yang frustrasi menggelar kampanye bumi hangus yang berujung pada kehancuran ratusan desa dan kematian ribuan warga Aceh.

Pada 1903, Belanda sudah di ambang kemenangan tetapi pertempuran-pertempuran masih terus berlangsung secara sporadis hingga 1914.

Jumlah korban: sekitar 90.000 orang.

4. Perang 30 Tahun

Pada 23 Mei 1618, sekelompok orang Protestasn yang marah menyerbu istana kerajaan Bohemia di kota Praha.

Di sana mereka melemparkan tiga orang Katolik yang dipilih menjadi pemimpin keluar dari jendela setinggi 25 meter. Ajaibnya, ketiga orang itu lolos dari maut.

Insiden yang dikenal sebagai Pelemparan di Praha, memicu pemberontakan umat Protestan di seluruh negeri.

Perang ini kemudian memicu konflik besar-besaran dan brutal antara negara-negara utama di Eropa.

Para pemain utama dalam perang ini adalah Kekaisaran Suci Roma, persatuan negara-negara Jerman, dan beberapa negara tetangganya yang bersekutu dengan Spanyol melawan Perancis, Swedia, dan Denmark.

Perang ini diakhiri dengan kekalahan koalisia Kekaisaran Roma Suci dan Spanyol yang kehilangan banyak wilayah dan pengaruh.

Pemenang perang ini Perancis dan Swedia menjadi negara kuat Eropa, meski Swedia tak bisa mempertahankan posisinya itu karena kalah dari Rusia dalam perang berikutnya.

3. Perang saudara Guatemala

Durasi: 36 tahun (1960-1996)

Pada 1954 kolonel angkatan darat berhaluan kanan Carlos Castillo Armas sukses menggulingkan pemerintahan kiri Guatemala yang terpilih secara demokratis.

Kudeta Kolonel Armas itu sebenarnya dirancang dan didanai pemeringtah AS lewat kemenlu dan dinas rahasia CIA.

Pada 1960, sekelompok perwira militer berhaluan kiri memimpin sebuah kudeta tetapi gagal menggulingkan pemerintah.

Hasil dari pemberontakan gagal itu adalah perang saudara 36 tahun antara tentara Guatemala dengan berbagai faksi pemberontak kiri.

Perang saudara baru berakhir setelah kesepakatan damai diteken kedua pihak pada 1996, tetapi banyak dilihat sebagai kemenangan para gerilyawan.

Dalam konflik inilah untuk pertama kali istilah penghilangan paksa digunakan.

Diperkirakan tentara dan kepolisian Guatemala menculik dan menghilangkan 40.000-50.000 orang, terutama para aktivis sipil.

Sebagian besar dari mereka yang dihilangkan itu adalah suku Maya dan jenazah mereka dibuang di kuburan massal atau dilemparkan ke laut dari helikopter.

Jumlah korban: sekitar 200.000 orang.

2. Perang Yunani-Persia

Durasi: 50 tahun (499-449 SM)

Perang ini sebenarnya terbagi atas tiga konflik selama periode 50 tahun, yang kemudian oleh para sejarawan digabung menjadi satu perang besar.

Perang ini terjadi antara koalisi negara-negara kota Yunani yang dipimpin Athena dan Sparta melawan kekaisaran Persia yang saat itu adalah negara terbesar  dan terkuat di dunia.

Di masa jayanya, Kekaisaran Persia memiliki penduduk 50 juta orang atau sekitar 44 persen jumlah penduduk dunia saat itu.

Perang dimulai dengan serangkaian revolusi Yunani di beberapa wilayah yang ditaklukkan Persia beberapa dekade sebelumnya.

Revolusi ini disusul serbuan dalam skala besar oleh Persia yang kemudian dibalas oleh pasukan Yunani.

Setelah berbagai pertempuran selama 50 tahun, Yunani menjadi pemenang dengan keberhasilan menangkal serangan Persia dan merebut sejumlah wilayahnya yang diduduki Persia.

Jumlah korban: tidak diketahui.

1. Perang 100 tahun

Durasi: 116 tahun (1337-1453)

"Peserta" utama perang ini adalah Inggris dan Perancis dan perang panjang ini dibagi ke dalam tiga komponen utama.

Salah satu bagian berlangsung selama 38 tahun yaitu Perang Lancastrian (1415-1453). Perang ini memperebutkan wilayah Inggris di Perancis dan kendali atas tahta Perancis.

Penguasa Inggris dan Perancis selama berabad-abad memiliki keterkaitan keluarga, sehigga klaim Inggris terhadap tahta Perancis tak jarang memiliki dasar yang kuat.

Perang panjang ini berakhir dengan menyerahnya Inggris. Perancis, sang pemenang, merebut hampir semua wilayah Inggris di negeri itu.

Akhir perang ini juga memulai masa isolasi Inggris dari politik Eropa daratan. Dan hanya dua tahun setelah perang ini, Inggris kembali terjerumus dalam perang panjang.

Jumlah korban: diperkirakan mencapai 3,5 juta orang.[] sumber: Kompas.com

Editor: THAYEB LOH ANGEN
sumber: Portalsatu.com

Kenapa Pemerintah Belum Mengibarkan Bendera Aceh ? Ini Jawabannya

Persoalan Bendera dan Lambang Aceh hingga menjelang berakhirnya jabatan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah tak kunjung selesai. Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 yang sudah disahkan DPR Aceh belum dijalankan sebagaimana mestinya. Pemerintah Aceh sudah menandatangani pernyataan agar Bendera Bulan Bintang yang menyerupai Bendera GAM itu diubah.
Kenapa Pemerintah Belum Mengibarkan Bendera Aceh ? Ini Jawabannya
Gubernur Aceh, Zaini Abdullah melalui Kepala Biro Hukum Pemerintah Aceh, Edrian mengatakan persoalan Bendera dan Lambang Aceh masih cooling down. “Ada pernyataan bersama antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat agar bendera Aceh itu diubah,” kata Edrian dalam konperensi pers di Rumoh Kopi, Aleuhat (12/3/2017).

“Ini bukan kita tidak menghargai Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh (UUPA), dalam cooling down itu semua turunan UUPA maupun Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden dilakukan secara parallel dengan melakukan perubahan. Ada kesekapatan yang sudah ditandatangani bersama,” kata Edrian.

Menurut Edrian UUPA tidak dilihat secara sepenggal-penggal. “Kita melihat UUPA itu secara utuh, kita berpegang apa yang sudah disebutkan dalam UUPA. Karena ada pernyataan bersama antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Pusat agar Bendera dan Lambang Aceh itu diubah,” demikian Kepala Biro Hukum, Edriah S.H.

Sebagaimana diketahui, persoalan Bendera dan Lambang Aceh ini tak kunjung selesai sejak Qanun Nomor 3 Tahun 2013 itu disahkan. Puluhan kali pertemuan dengan pemerintah pusat sudah dilakukan tapi masih tetap juga cooling down.

Bahkan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) juga mendesak agar Bendera Aceh tersebut segera dikibarkan di Kantor DPR Aceh agar persoalannya tidak berlarut-larut dan anggota DPR Aceh bisa lebih fokus memikirkan kesejahteraan rakyat Aceh. Tapi upaya pengibaran bendera yang menjadi kebanggaan orang Aceh itu gagal dilaksanakan karena dilarang Pemerintah Aceh.

Jika dilihat aturan Pasal 18b Undang-Undang Dasar 1945 bahwa negara mengakui satuan pemerintahan yang bersifat khusus dan istimewa yang diatur dengan Undang-Undang. Provinsi Aceh memiliki Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh (UUPA).

Dalam Pasal 246 ayat (2,3,4) Undang – Undang Pemerintah Aceh disebutkan bahwa Pemerintah Aceh dapat menentukan dan menetapkan bendera daerah Aceh sebagai lambang yang mencerminkan keistimewaan dan kekhususan dan bukan merupakan simbol kedaulatan yang aturannya ditentukan oleh Qanun Aceh Tentang Bendera dan Lambang Aceh. [Firman]
sumber: www.acehterkini.com